Makalah Psikologi Pendidikan (Penerapan Belajar Dalam Konteks Perkembangan Fisik, Kognitif dan Otak)


Makalah Psikologi Pendidikan
Penerapan Belajar Dalam Konteks Perkembangan
Fisik, Kognitif dan Otak
 


     
DISUSUN OLEH:
Dora Maulina Simamora (4*********)
Monica Sitanggang (4*********)
Sarah Amelia Pasaribu (4*********)

KELAS
 BIOLOGI DIK A 2018

Dosen Pengampu:
Nurhairani, S.Pd, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga Makalah yang berjudul “Penerapan Belajar Dalam Konteks Perkembangan Fisik, Kognitif,dan Otak” ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pengampu bu Nurhairani dan atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga Makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman,kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini
                                                                                     
Medan, 14 Februari 2019



Penyusun



DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................
Daftar Isi...................................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN                  
A.    Latar Belakang...............................................................................................
B.     Rumusan masalah..........................................................................................
C.     Tujuan............................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN BUKU dan JURNAL
a)      Perkembangan Fisik (motorik).................................................................
b)      Perkembangan Kognitif...........................................................................
c)      Perkembangan Sosial...............................................................................
d)     Perkembangan emosional.........................................................................
e)      Perkembangan Moral...............................................................................
f)       Penerapan belajar dalam berbagai konteks..............................................
                                                          
BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang                                  
            Dalam proses belajar diperlukan adanya kesiapan. Menurut Thorndike (Slameto, 2003:133) kesiapan adalah prasyarat untuk belajar berikutnya. Selain itu dengan adanya kesiapan belajar seorang peserta didik akan lebih termotivasi sehingga untuk mengembangkan potensinya secara maksimal peserta didik harus memiliki kesiapan. Oleh karena itu seorang guru harus memahami betul bagaimana perkembangan psiko-fisik peserta didik pada proses-proses perkembangan dan hubungannya sebagai bentuk kesiapan dalam kegiatan belajar siswa. Perkembangan-perkembangan yang dimaksudkan yaitu perkembangan fisik, kognitif dan otak peserta didik. Sehingga diharapkan seorang guru akan mampu memberikan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik. Sedangkan bagi peserta didik dapat melalui proses pembelajaran dengan pengetahuannya berdasarkan tahap perkembangan yang di milikinya.
            Dalam tugas rutin 2 ini membahas mengenai penerapan belajar dalam konteks perkembangan fisik, kognitif dan otak peserta didik dan bagaimana keterpaduan ketiga konteks tersebut dalam belajar peserta didik serta bagaimana hubungan konsep perkembangan dengan kesiapan dan proses belajar peserta didik.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa itu perkembangan fisik?
2.      Apa itu perkembangan kognitif?
3.      Apa itu perkembangan otak?
4.      Bagaimanakah penerapan belajar dalam konteks ketiga aspek tersebut dalam perkembangan?

C. Tujuan
   Adapun tujuan penyusunan Tugas Rutin ini bagi Penulis makalah ini adalah agar penulis lebih memahami materi penerapan belajar dalam berbagai konteks. Bagi pembaca dan masyarakat luas, makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu referensi untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai materi ini.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    PERKEMBANGAN FISIK
Perkembangan Fisik
Pola pertumbuhan fisik anak yang terarah, terdiri dari:

·         Cephalocaudal atau head to tail direction
·         Proximadistal atau Near to far direction
·         Mass to specifik atau simple to complex
Perkembangan (Motor) Fisik Siswa
Dalam psikologi kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal keadaan dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya pengeluaran cairan atau getah secara singkat motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik proses perkembangan fisik anak berlangsung kurang lebih selama 2 dekade atau 2 dasawarsa sejak lahir semburan perkembangan terjadi pada masa anak usia remaja antara 12 atau 13 tahun hingga 21/22
Perkembangan fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:
a)      Sistem saraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi
b)      Otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik
c)      Kelenjar Endoktrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku  baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis
d)     Struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi berat dan proporsi.
 Pada pembahasan tentang teori psikososial tampak perlunya keseimbangan antara perkembangan diri dengan perkembangan sosial dalam belajar.Konsep yang sering dihubungkan dengan perkembangan diri adalah konsep diri (self concept), harga dıri (self esteem) Konsep diri secara umum diartikan sebagai ide-ide, perasaan, sikap dan harapannya (Pajares & Shunk, 2001 dalam Woolfolk, 2009). Konsep diri merupakan upaya membangun sebuah skema yang ebagai pengetahuan atau keyakinan individu tentang dirinya, tentang dirinya mengorganisasıkan perasaan dan sikap tentang diri.
Konsep diri berkembang melalui evaluasi diri yang konstan pada berbagai macam situasi. Pada diri remaja proses perkembangan konsep dapat berlangsung pada saat mempertanyakan hasil kerjanya. Konsep diri menjadi baik, jika individu memiliki gambaran tentang citra diri idealnya sejalan dengan citra diri yang dikembangkan tentang gambaran dirinya menurut pandangan orang lain.

B.     PERKEMBANGAN KOGNITIF
          Kognisi artinya kemampuan berfikir, kemampuan menggunakan otak. Perkembangan kognisi berarti perkembangan anak dalam menggunakan kekuatan berfikirnya. Dalam perkembangan kognitif, anak dalam hal ini otaknya mulai mengembangkan kemampuan untuk berfikir, belajar dan mengingat. Dunia kognitif anak pada usia ini adalah kreatif, bebas, dan fantastis. Imajinasi anak berkembang sepanjang waktu, dan pemahaman mental mereka mengenai dunia menjadi lebih baik.Pada tingkat ini anak sudah dapat meningkatkan penggunaan bahasa dengan menirukan prilaku orang dewasa.
Teori kognitif sosial awalnya disebut teori belajar sosial. Teori kognitif sosial berakar dari behaviorisme sehingga teori ini juga membahas pengaruh penguatan dan hukuman dalam batas tertentu. Dalam perkembangannya, teori behaviorisme memasukkan proses-proses kognitif kedalam penjelasan tentang belajar sehingga akhirnya disebut teori kognitif sosial. Teori kognitif sosial mengulas tentang motivasi dengan porsi yang lebih besar dibandingkan ulasan serupa pada perspektif kognitif dan behavioris.
istilah kognitif berasal dari kata cognition yang berarti mengetahui dalam arti yang luas, cognition(kognisi) ialah perolehan,penataan,dan penggunaan pengetahuan.hasil-hasil riset para ahli psikologi kognitif yang menyimpulkan bahwa aktivitas ranah kognitif manusia itu pada prinsipnya sudah berlangsung sejak masa bayi yakni rentang kehidupan antara 0 sampai 2 tahun.
hasil-hasil riset kognitif yang dilakukan selama kurun waktu sekitar 30 tahun terakhir ini menyimpulkan bahwa semua baik manusia sudah ber kemampuan menyimpan informasi informasi yang berasal dari penglihatan pendengaran dan informasi-informasi lain yang diserap melalui Indra Indra lainnya.selain itu,bayi juga berkemampuan merespons informasi-informaai tersebut secara sistematis.
Selanjutnya, seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak. Jean Piaget (sebut: Jin Piasye), yang hidup tahun 1896 sampai tahun 1980, mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan:
1. Tahap sensory-motor yakni perkembangan ranah kognitif
            yang terjadi pada usia 0-2 tahun. 
2. Pre-operational yakni perkembangan ranah kognitif pada usia 2-7 tahun.
3. Tahap concrete-operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun
4. Tahap formal-operational, yakni perkembangan ranah kognitif terjadi pada usia 11-                    15 tahun
istilah-istilah khusus dan  artinya yang berhubungan dengan proses perkembangan kognitif versi Piaget tersebut.:
1.      sensory-motor schema (skema sensori-motor) ialah sebuah atau serangkaian perilaku terbuka yang tersusun secara sistematis untuk merespons lingkungan (barang, orang, keadaan, kejadian)
2.      Cognitive schema (skema kognitif), ialah perilaku tertutup berupa tatanan langkah-langkah kognitif (operations) yang berfungsi hal yang tersirat atau menyimpulkan lingkungan yang  direspons.
3.      Object permanance (ketetapan benda) yakni anggapan bahwa sebuah benda akan tetap ada walaupun sudah ditinggalkan atau tidak dilihat lagi
4.       Assimilation (asimilasi), yakni proses aktif dalam menggunakan skema untuk merespons lingkungan.
5.       Accomodation (akomodasi), yakni penyesuaian aplikasi skema yang Cocok dengan lingkungan yang direspons
6.      Equilibrium (ekuilibrium), yakni keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketetapan akomodasi.
            Pemahaman mengenai proses belajar dalam perspektif kognitif-sosial dapat dijelaskan melalui beberapa asumsi dasar dari teori kognitif-sosial berikut:
·         Seseorang dapat belajar dengan mengamati orang lain.
·         Belajar merupakan proses internal yang belum tentu menghasilkan perubahan perilaku.
·         Manusia dan lingkungannya saling mempengaruhi.
·         Perilaku mengarah pada tujuan-tujuan tertentu.
·         Perilaku menjadi semakin bisa diantur sendiri (self regulated).
·         Konsekuensi berpengaruh terhadap perilaku hanya jika pelajar sadar akan kemungkinan (contingency) yang terjadi.
·         Pelajar membentuk harapan tentang konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari suatu tindakan yang akan datang dan berperilaku sesuai dengan hal itu.
·         Harapan pelajar dipengaruhi oleh hal terjadi pada orang lain dan pada diri mereka.
·         Keputusan pelajar dalam membuat respons-respons tertentu bergantung juga pada keyakinan akan kemampuan mereka dalam membuat respon tersebut.
·         Harapan mengenai konsekuensi yang akan datang memengaruhi kedalaman dan dengan cara pelajar memproses sebuah informasi secara kognitif.
·         Demonstrasi pengetahuan dan keterampilan baru siswa hanya tejadi jika mereka mengharapkan penguatan atas tindakan tersebut.
·         Tidak terjadinya konsekuensi yang diharapkan akan memiliki efek yang menguatkan atau menghukum.

C. PERKEMBANGAN OTAK
Kendali seluruh saraf yang ada di dalam diri manusia adalah otak. Oleh karena itu dalam belajar otak adalah penentu utamanya, berarti belajar juga mengembangkan otak.Perkembangan sel otak ini mengikuti sistem yang kompleks. Jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah setidaknya sampai usia remaja.
Myelination dalam daerah otak berhubungan dengan koordinasi mata dan tangan. Perkembangannya baru lengkap hingga anak berusia empat tahun. Sedangkan myelination yang diperlukan dalam memfokuskan perhatian baru akan lengkap perkembangannya di usia akhir Sekolah Dasar. Hal ini berimplikasi bahwa anak-anak sulit untuk mempertahankan perhatian pada jangka waktu yang lama. Oleh karena itu di dalam belajar anak memerlukan segmen istirahat di antara mata pelajaran di sekolah untuk membantu menjaga energi dan motivasi anak untuk belajar.
Keenam sistem otak mempunyai peranan penting dalam pengaturan kognisi, afeksi, dan psikomotorik, termasuk IQ, EQ, dan SQ. Pemisahan jasmani, rohani dan akal akan berimplikasi pada pengembangan ketiganya(IQ,EQ dan SQ) yang secara otomatis melanggengkan ketidakseimbangan  pada ranah  kognisi, afektif  dan  psikomotorik dalam pembelajaran. Bukti ilmiah ini memberi inspirasi bahwa pendidikan karakter tidak ubahnya dengan mengembangkan potensi otak. Semua sistem dalam otak bekerja secara padu untuk membangun sikap dan perilaku manusia. Oleh karena itu, meregulasi kinerja otak secara normal akan menghasilkan fungsi optimal sehingga perilaku dapat dikontrol secara sadar dengan melibatkan dimensi emosional dan spiritual.
Dengan demikian, pendidikan karakter dapat dijelaskan dalam mekanisme kerja otak pada tingkat molekuler, khususnya enam sistem di atas. Atas dasar inilah neurosains yang disebut  ilmu yang menghubungkan antara otak dan pikiran (brain-mind connection) atau jiwa dan badan,termasuk hati dan akal. Contoh di atas menunjukkan bahwa dunia pendidikan selama ini masih memisahkan antara otak,pikiran,jiwa-badan,dan akal-hati.
Berikut ini merupakan beberapa kegiatan otak yang berkontribusi bagi pendidikan:
a)  Electroencephalography (EEG) dan Magnetoencephalography (MEG)
b)  Positron-Emission Tomography (PET)
c)  Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI)
d)  Functional Magnetic Resonance Spectroscopy (FMRS)
e)  Single Photon Emission Computed Tomography (SPELT)

Ingatan merupakan sistem yang memiliki 3 tahap, yaitu:
i.                Encoding adalah proses ketika informasi dipersiapkan untuk penyimpanan jangka panjang. Seperti meletakkan informasi dalam sebuah folder untuk dimasukkan dalam ingatan.

ii.               Storage adalah penyimpanan informasi dalam ingatan untuk penggunaan di masa depan. Seperti meletakkan folder jauh dari lemari penyimpanan.

iii.             Retrieval adalah proses ketika informasi dipanggil atau diakses dari penyimpanan ingatan. Retrieval muncul saat informasi dibutuhkan.


Otak memiliki 3 tempat penyimpanan yaitu:
i.                Sensory memory adalah tempat penyimpanan sementara dari informasi sensori yang masuk.

ii.                 Working memory adalah penyimpanan informasi jangka pendek yang diproses secara aktif, dengan cara berusaha untuk memahami, mengingat, atau memikirkannya.

iii.                    Long term memory adalah penyimpanan yang kapasitasnya tidak terbatas yang dapat menyimpan informasi dalam jangka waktu panjang.
  
D.    PENERAPAN BELAJAR DALAM BERBAGAI KONTEKS
       Dalam situasi belajar peserta didik terlibat langsung dalam situasi memperoleh pemecahan masalah. Dengan demikian tingkah laku peserta didik bergantung kepada responnya terhadap apa yang terjadi dalam suatu situasi belajar. Dalam hal ini guru sebagai seorang pendidik harus mampu menjalankan perannya menerapkan proses belajar dalam ketiga konteks tersebut, yaitu :
            Pertama, guru dalam menunjang kegiatan profesionalnya memiliki kecakapan yang bersifat jasmaniah (fisik), seperti duduk, berdiri, berjalan, berjabat tangan dan sebagainya ataupun mengekspresikan diri secara verbal maupun non-verbal.
            Kedua, guru harus memiliki kapasitas kognitif tinggi yang menunjang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Menurut Muhibbinsyah (1997), keterampilan yang menunjang profesinya secara kognitif ada 2 kategori yaitu : 1.) ilmu pengetahuan kependidikan (psikologi pendidikan, metode pembelajaran dan sebagainya) dan 2.) Ilmu pengetahuan materi bidang studi. Maka dengan bekal kemampuan kognitif tersebut seorang guru dapat menguasai materi secara mendalam di sertai dengan penyampaian yang baik dalam proses belajar, sehingga seorang guru mampu memaksimalkan kemampuan kognitif peserta didik.
            Ketiga, Seorang guru harus memiliki keterampilan sosial yang baik. Guru hendaknya memiliki sifat empati, ramah dan bersahabat kepada orang lain terutama kepada peserta didik. Jika guru menerapkan perilaku tersebut maka akan menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang pendidik guru harus memiliki keyakinan dalam kemampuannya dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran. Seperti menurut Muhibbinsyah (1997) Guru yang memiliki keyakinan yang tinggi tentang kemampuannya mengajarnya ternyata juga menghasilkan siswa yang memiliki prestasi tinggi.

E.   Keterpaduan proses fisik,kognitif,dan otak  dalam    belajar
       Perkembangan Peserta Didik merupakan bagian dari pengkajian dan penerapan Psikologi Pendidikan, dimana dalam hal ini Perkembangan peserta didik difokuskan pada perkembangan individu sebagai peserta didik pada institusi pendidikan. Sebab ciri yang ada pada masing-masing individu yang akan membedakan cara berpikir, berperasaan, dan bertindak.
       Dalam konteks perkembangan fisik, kognitif dan sosial masing-masing menekankan aspek khusus dari perkembangan, akan tetapi memiliki kaitan satu sama lain. Misalnya kemampuan kognitif seseorang dapat bergantung pada kesehatan fisik dan pengalaman sosial, atau perkembangan sosial yang dipengaruhi kematangan fisik maupun kognitif.
       Menurut Muhibbin Syah (2010), ranah psikologis yang terpenting adalah ranah kognitif sebab tanpa ranah kognitif, seorang siswa akan sulit berfikir dan sulit memahami materi pelajaran yang di sajikan kepadanya. Dengan mengembangkan fungsi kognitif maka akan berdampak posifif pada fungsi yang lain (afektif dan psikomotor). Misalnya siswa yang berprestasi baik dalam bidang agama tentu akan lebih rajin beribadah. Dia tidak akan segan memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan. Sebab ia merasa memberi bantuan itu adalah kebajikan (afektif), sedangkan perasaan yang berkaitan dengan kebajikan tersebut berasal dari pemahaman yang mendalam terhadap materi pelajaran agama yang ia terima dari gurunya (kognitif).
       Maka dengan meningkatkan proses belajar dalam konteks kognitif akan mempengaruhi konteks fisik (motor) dan sosial peserta didik menjadi alasan ketiga konteks perkembangan ini tidak dapat dipisahkan serta saling berkaitan satu sama lain. Selain itu dapat menjadi salah satu Indikator keberhasilan dari upaya seorang guru dalam meningkatkan perkembangan keterampilan dan kemampuan peserta didik dalam proses belajar.



BAB III
KESIMPULAN

            Melalui belajar peserta didik akan berkembang dan mampu mempelajari hal-hal yang baru. Perkembangan adalah tahapan perubahan psiko-fisik manusia yang progresif sejak lahir hingga akhir hayat. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku yang baru juga. Ada beberapa konteks perkembangan, yaitu : Perkembangan Fisik, Perkembangan Kognitif dan Perkembangan Otak.
            Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Peserta didiklah yang menentukan terjadi atau tidak terjadi belajar. Maka menjadi tugas seorang guru untuk memberikan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik. Sedangkan bagi peserta didik dapat melalui proses pembelajaran dengan pengetahuannya berdasarkan tahap perkembangan yang di milikinya. Sehingga kesemuanya itu dapat menjadi wujud realisasi atau penerapan proses belajar dalam konteks perkembangan Fisik, Kognitif dan Otak.



DAFTAR PUSTAKA

Desiningrum,D.R.2012. Psikologi Pendidikan I. Semarang:Universitas Diponegoro.

Latipah, E. 2012. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:PT. Pustaka Insan Madani.

Milfayetty, S. dkk. 2018.  Psikologi Pendidikan. Medan:Universitas Negeri Medan.

Murni. 2017. Perkembangan Fisik, Kognitif Dan Psikososial Pada Masa Kanak-Kanak Awal         2-6 Tahun. Jurnal Pendidikan Anak. Vol. 3. No 1.

Syah, M. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Wathon, A. 2015. Neurosains Dalam pendidikan. Jurnal Lentera. Vol. 14. No 1.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daur Biogeokimia (Siklus Karbon, Siklus Fosfor dan Siklus Sulfur)